Lonjakan kasus kekerasan anak di Indonesia capai 13.845 kasus pada semester I 2025. Fakta ini mengejutkan publik dan menyoroti lemahnya sistem perlindungan anak.
Lonjakan Kasus Kekerasan Anak di Indonesia Capai 13.845 Kasus, Kasus Kekerasan Terus Naik
Kementerian PPPA melaporkan 13.845 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga akhir Juni 2025. Dari jumlah itu, sebagian besar korbannya adalah anak-anak. Kasus yang paling mendominasi adalah kekerasan seksual.
Sebagian besar pelaku berasal dari lingkungan terdekat. Keluarga, tetangga, hingga orang yang dipercaya korban menjadi pihak yang paling sering menyakiti.
Data SNPHAR: Setengah Anak Indonesia Alami Kekerasan
Hasil survei SNPHAR 2024 mencatat bahwa 1 dari 2 anak berusia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan. Sepanjang tahun 2024, pemerintah mencatat 28.831 kasus kekerasan terhadap anak.
Kekerasan ini tidak hanya fisik, tapi juga psikis, seksual, hingga eksploitasi ekonomi dan digital. Banyak korban menyimpan trauma dalam jangka panjang.
Penyebab: Lemahnya Pengawasan dan Stigma Sosial
Orang tua sering kali lalai mengawasi anak di era digital. Gawai dan media sosial membuat anak terpapar konten berbahaya dan rentan dieksploitasi.
Selain itu, masyarakat masih memandang tabu terhadap korban kekerasan. Banyak keluarga memilih diam karena takut stigma atau tekanan sosial.
Langkah Pemerintah: Bentuk UPTD, Perkuat Sistem
Pemerintah kini mendorong pembentukan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak di setiap daerah. UPTD bertugas menangani laporan, memberikan pendampingan hukum, serta memulihkan korban secara psikologis.
Namun, Komisioner KPAI menyebut sistem layanan saat ini masih belum responsif. Banyak kasus terlambat ditangani dan korban tidak mendapat pendampingan yang layak.
Publik Desak Pemerintah Bertindak Nyata
Warganet dan aktivis meminta pemerintah lebih serius. Mereka menilai kebijakan belum menyentuh akar masalah. Edukasi, pendampingan, serta penindakan terhadap pelaku harus dilakukan serentak.
Sekolah, RT/RW, dan komunitas perlu terlibat dalam pencegahan kekerasan. Jangan biarkan anak-anak menghadapi kekerasan sendirian.
Penutup
Kekerasan terhadap anak bukan hanya soal angka. Di baliknya ada luka, trauma, dan kehilangan masa depan. Semua pihak — dari pemerintah hingga keluarga — harus bergerak cepat dan serius. Anak-anak berhak tumbuh dengan aman dan bahagia.



